Mayor (Anumerta) Ruben Rukka Andilolo

Mayor Ruben Rukka Andilolo

Putra Pertama Puang Benyamin Ruruk Andilolo dengan Paulina Ittang dari tongkonan ma’dika di Bo’ne Patekke Makale,cucu dari Puang Andilolo dan Cicit dari Puang Tarongko
Sebelum penjajahan Jepang, Rukka Andilolo dikirim ke Jawa untuk mengikuti pendidikan Landbouw Pertanian di Blitar.Pada masa Revolusi Fisik Ruben Rukka Andilolo ikut berjuang di Jawa bersama pelajar lainnya dan sekolah mereka dibubarkan sementara. Karena situasi Rukka memilih untuk melanjutkan pendidikan darurat di Pendidikan Dasar Perwira Sekolah Tentara Divisi VIII di kota Malang, tahun 1946 nama Divisi VIII berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati. Di Malang sekolah ini lebih dikenal dengan nama sekolah Kadet Malang, karena siswanya biasa disebut dengan kadet.
Sejak Agresi Militer Belanda ke daerah Jawa Timur, Pihak keluarga di Makale Tana Toraja tidak pernah menerima kabar berita lagi sehingga pada saat itu  diperkirakan Rukka sudah gugur dalam perjuangan di jawa.
Pada Tahun 1949 Lettu Rukka Andi Lolo muncul kembali ke kota Makale dengan membawa pasukannya yang sebagian besar berasal dari daerah jawa timur dengan logat bahasa jawatimuran dan madura yang khas. Pada waktu itu Pasukan ini sering terlihat melakukan kegiatan latihan baris berbaris di sekitar Kolam Makale, sedangkan Lettu Rukka tinggal di rumahnya di Lonok Makale.
RR.Andilolo kawin dengan Betseba Tahalele pada tahun 1950,dan bertugas sebagai Komandan Kompi di Batalion yang disebut “Batalion Anjing Laut”dengan pangkat Kapten(pada saat itu Mantan Panglima ABRI Jendral M.Jusuf(Alm) juga masih berpangkat Kapten sebagai Komandan Kompi CPM di Makasar yang kemudian menjadi ajudan Kawilarang).mereka  perwira-perwira asal sulawesi selatan yang ikut berjuang di Jawa dan dikirim untuk mengkonsolidasikan pasukan di Sulawesi selatan .

Pertengahan Tahun 1950 Kompi RR Andilolo ditugaskan untuk menumpas Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) dan pasukan sulawesi selatan lain tergabung dalam Brigade II  Komando Pasukan Maluku Selatan (Kompas Malsel) pimpinan Kol.Slamet Riyadi (Komandan Brigade V Div II) dengan Batalion 352 (Bn Suradji) sebagai inti pasukan.Panglima Operasi adalah Kolonel A.E.Kawilarang selaku Panglima TT VII
Pasukan RMS adalah pasukan ex-KNIL pasukan payung, pasukan komando, panser, dan sekitar 1000 milisi lokal  pimpinan Dr. Soumoukil di ambon.

Pada 9 Mei di Ambon oleh tentara-tentara eks KNIL dengan menggunakan cara tentara Belanda mendirikan Angkatan Perang Republik Maluku Selatan (APRMS). Kekuatan ini di topang oleh barisan sukarela yang umumnya terdiri dari anak-anak muda usia 16 tahun keatas yang militant dan fanatic mempertahankan RMS. Pada Juni 1950 pucuk pimpinan APRMS dibentuk yang terdiri dari Sersan Mayor Samson sebagai Panglima dan Sersan-Mayor Pattiwael sebagai Kepala Staf APRMS. Anggota-anggota Staf antara lain adalah Sersan-Mayor Kastanja dan Sersan Mayor Pieter dan Sersan Aipassa. Kesemua mereka ini adalah prajurit-prajurit KNIL tua yang kemudian mendapat pangkat dari Kolonel hingga Mayor.

Pulau Seram juga mendapat tempat sebagai basis pertahanan, hingga juga terbentuk satuan kekuatan militer dengan sebutan Tentara Panah terdiri dari sekitar 10.000 orang.

Operasi TNI/APRIS menumpas RMS berkekuatan 2 brigade, 10 kapal perang, dan 2 B-25. TNI-AL dipimpin Mayor John Lie. Brigade I adalah Pasukan dari Siliwangi

 Dalam bukunya, Kawilarang mengatakan: “Sebelum mendarat di Pulau Buru dan Seram kami perlu mengadakan latihan pendaratan dengan LCI di suatu pulau dekat Makassar . Latihan ini antara lain diadakan dengan dua kompani dari Bataltyon Suradji yang direncanakan akan mendarat dulu di Buru. Waktu LCI kandas dan kami turun, air laut sampai dada saya. Kapten Leo Lopulisa dan Mayor laut Alex Langkay malahan masuk laut yang lebih dalam lagi. Belum lagi prajurit-prajurit dari Batalyon Suradji. Waktu sedang melangkah ke darat, saya dengar seorang prajurit sambil batuk berteriak pada temannya, “Lho, air laut asin.” Jangan heran, mereka datang dari Solo, belum pernah masuk laut. Tetapi saya juga berpikir, pasukan pendaratan ini belum benar-benar merupakan seaborne forces.”
Sesudah empat hari berlayar dari Makassar, pasukan APRIS tiba di utara Pulau Buru pertengahan Juli 1950. Ombak tinggi sekali dan hampir seluruh seaborne force, yaitu Batalyon Pelupessy dan dua kompani Batalyon Soeradji, mabuk laut. Maklum hanya dengan dua LCI dan satu LST (Landing Ship Tanks). Di utara Buru mereka rendez-vous (berkumpul) dengan kapal Waikelo yang membawa Batalyon 3 Mei pimpinan Mayor Mengko dari Manado .
 

Esok harinya dua kompi Batalyon Suradji mendarat dahulu kira-kira lima kilometer sebelah barat Namlea. Tidak ada perlawanan. Menyusul pendaratan Batalyon Pelupessy yang akan maju ke Namlea. Ternyata pasukan ini mendapat hadangan dan menderita korban.

Selain itu hampir seluruh pasukan merasa lemas. Karena pada umumnya selama empat hari muntah-muntah. Waktu pendaratan, “ransom” makan, berupa biscuit laut untuk dua hari, basah dan tak bisa dimakan.
Kawilarang putuskan, supaya Batalyon 3 Mei, yang masih segar dan sehat karena diangkut dengan kapal besar Waikelo, untuk menyerbu Namlea.

 

Hal ini terjadi di pagi hari, pada hari ketiga. Pada serangan ini Prajurit Banteng jatuh sebagai korban pertama dan Sersan Mayor Tandayu luka.

Senjata-senjata yang ditinggalkan di markas RMS antara lain berupa beberapa brengun. Pasukan penyerbu sangat hati-hati mendekati markas dan gudang RMS itu. Ternyata tidak ada booby trap.

Keesokan hari tiba dengan kapal korvet, Letkol Slamet Rijadi, Komandan Pasukan Maluku. Iapun gembira karena bertemu dengan Mayor Soeradji, bekas bawahannya.Disamping itu, datang juga Kapten M Jusuf yang akan menjadi ajudan Panglima Kawilarang. Kemudian di rencanakan untuk menduduki Piru dahulu oleh Batalyon 3 Mei.

Kota Piru di dekati dari dua jurusan. Waktu sore hari tiba di sana , pasukan RMS sudah mengosongkannya. Sebelumnya dikirimkan tiga orang tentara eks RMS yang di tawan ke sana untuk meyakinkan pasukan RMS supaya bergabung dengan APRIS atau menyerah. Ternyata waktu Piru di duduki, ketiga orang itu sudah di tembak mati oleh komandan pasukan RMS di Piru, Nussy. Salah seorang yang dibunuh malahan Lestiluhu, komandan pasukan RMS di Buru, yang ditawan pasukan APRIS di Namlea. Ia adalah anggota Baret Hijau punya banyak teman di Batalyon 3 Mei, dimana satu peleton juga terdiri atas bekas anggota Baret Hijau dan Baret Merah.

Dua hari kemudian pasukan APRIS mendarat di teluk, kira-kira tiga kilometer sebelah utara Amahai, dengan dua kompani dari Batalyon Soeradji. Letkol Slamet Rijadi selalu berada di depan. Sesudah pertempuran kurang lebih dua jam, Amahai pun di duduki. Letkol Slamet Rijadi sebagai komandan pasukan Maluku, sementara kepala staf Mayor Herman Pieters mengkonsolidasi pasukannya. Juga dikepulauan Banda dan bagian selatan Pulau Seram sudah di kuasai pasukan APRIS.

Batalyon Abdullah sudah menempatkan pasukan APRIS di kepulauan Tamimbar, Kei, Aru hingga kepulauan Geser dan beberapa tempat di Seram Selatan. Mayor Abdullah gugur dalam salah satu pendaratan di Seram Selatan. Ternyata pasukan RMS dapat menyeberangkan sebagian pasukannya dengan perahu-perahu ke Pulau Seram dan menyerang Amahai. Tetapi serangan ini dapat di patahkan oleh pasukan Mayor Soeradji.
Pertempuran empat hari di Makassar (5-9 Agustus) sempat memperlambat operasi militer APRIS ke Ambon selama sekitar satu bulan, sementara pasukan tambahan dari Jawa sudah berdatangan. Rencana penyerbuan selanjutnya adalah mendaratkan pasukan di Hitulama-Hitumesing , di utara pulau Ambon, dan pasukan lain di Tulehu dibagian timur dan sesudah dua pasukan bertemu di Paso, menyerang kota Ambon dari utara dan ada lagi pasukan lain yang akan menduduki lapangan terbang di sebelah barat pulau Ambon .

Yang akan mendarat di Hitulama dan Hitumesing adalah pasukan Mayor Jusmin dengan di pimpin oleh Letkol Soediarto. Pasukan 3 Mei pimpinan Mayor Mengko akan mendarat di Tuleho.

Dalam pendaratan di Tuleho, Letkol Slamet Rijadi mendarat di sebelah selatan Tuleho dan Kolonel Kawilarang bersama Kapten Jusuf, Leo Lopulisa, Joost Muskita dan Kapten Claproth di sebelah utara Tulehu. Untuk pendaratan itu, APRIS sudah terima 10 LCM. Enam LCM akan digunakan untuk Tulehu dan empat lainnya untuk Hitu.

Pendaratan APRIS di Ambon
Pada 28 September 1950 pendaratan berlangsung di Tulehu dan Hitu di pantai utara. Invasi APRIS berkekuatan 6½ batalyon infantry dengan menggunakan kapal-kapal amfibi LCM yang di dukung oleh tembakan-tembakan dari 4 kapal korvet dan dua pembom B-25.
Pada pendaratan itu terjadi peristiwa tragis. Menurut pasukan cadangan yang menonton dari atas kapal Waikelo, melihat ketika pendaratan LCM dan keluarnya pasukan 3 Mei dari LCM sesudah kandas, merupakan suatu pemandangan yang tidak akan mereka lupakan.
Kolonel Kawilarang menceritakan: “Sesudah pendaratan, saya bersama pasukan maju ke Tulehu. Begitu juga Slamet Rijadi. Lalu kami berkelompok di Tulehu dan terus maju menuju Ambon . Tetapi baru saja kira-kira satu kilometer dari Tulehu kami sudah mendapat perlawanan hebat. Dalam pertempuran ini 20 anggota “3 Mei” gugur. Waktu itu ajudan saya, Kapten Jusuf, berkata dengan suara risau, “Kijk, Soekirmo is geraakt” (Liha,t Soekirmo kena). … Soekirmo, ajudan Slamet Rijadi itu tersenyum-senyum saja, seperti tidak menderita apa-apa. Sambil memegang lengan yang tergantung dengan tangan lain, ia berjalan ke Tulehu. Sayapun kaget melihatnya bercampur bangga atas kekuatannya. Baru pada jam 3 sore pasukan maju lagi, tetapi delapan kilometer kemudian, di suatu tempat, dengan hutan lebat sebelah kanan kami, terjadi lagi pertempuran. Sedang hari sudah mulai menggelap. Lalu kami tidur di sebelah jalan, di pinggir hutan, dalam keadaan basah kuyup, karena hujan lebat mengguyur kami. Saya melihat Slamet Rijadi, ajudan lainnya, Soendjoto, Jusuf dan Muskita, semuanya kedinginan. … Sementara itu kami sudah tahu bahwa Letkol Soediarto gugur di Hitulama/Hitumesing . Ia gugur sebelum mendarat. Masih di atas LCM, waktu kandas dan pintu LCM dibuka, ia kena tembakan di perutnya. … Dalam keadaan luka parah sempat di bawa ke kapal rumah sakit, “Waibalong” dan di operasi oleh Mayor Dokter Soejoto. Peluru menembus enam usus dan waktu sedang di operasi, Letkol Soediarto menghembuskan nafasnya terakhir.”
Penyerbuan ke Ambon berlanjut. Gerakan pasukan Mayor Jusmin, dibantu pasukan Mayor Soerjo Soebandrio, terhenti dekat Telaga Kodok, karena ada perlawanan hebat dari RMS. Gerakan dari Tulehu diteruskan, tetapi juga sangat lamban, karena terus menerus di perlamban oleh sniperfire RMS, dan di daerah itu sulit sekali untuk melambung.
Sesudah beberapa hari baru pasukan APRIS tiba di Suli.
Di awal November datang pasukan tambahan dari Jawa melalui Makassar , yakni pasukan Kapten Poniman dan pasukan Mayor Lukas Kustarjo. Untuk itu rencana penyerbuan kota Ambon disusun. Pasukan Poniman akan mendarat di selatan kota Ambon sementara pasukan Lukas Kustarjo di sebelah utara. Sesudah itu Batalyon 3 Mei akan menduduki daerah pegunungan tenggara kota Ambon . Sementara itu pasukan Mayor Jusmin dan Mayor Soerjo Soebandrio menyerang dari Telaga Kodok menuju ke jurusan Paso dan sebagian ke lapangan terbang. Detasemen Kapten Faah akan mendarat di pantai selatan Teluk Baguala, tidak jauh dari sebelah timur Paso dan dari Waitatiri maju pasukan-pasukan dari Kapten Claproth, Mayor Worang, Kapten Mahmud Pasha, Mayor Soeradji. Letkol Slamet Rijadi dan Kapten Muskita ikut dengan pasukan yang berangkat ke Waitatiri. Kolonel Kawilarang akan berangkat dengan kapal dari Tulehu, bersama dengan pasukan akan mendarat dekat kota Ambon. Mayor Achmad Wiranatakoesoemah akan memimpin pasukan ini, sementara Letkol Daan akan diperbantukan kepada Kawilarang.
Kekuatan APRIS terdiri dari tiga korvet, yakni, “Patiunus” dengan Mayor Laut Rais, “Banteng” yang membawa Kolonel Kawilarang dan “Rajawali” yang bertugas melindungi pendaratan jika perlu. Perwira liaison ALRI adalah Mayor Alex Langkay. Selain itu masih ada dua bomber B-25 dari AURI dengan pilot Mayor Noordraven dan Letnan Ismail. Pada 2 November, sehari sebelum berangkat dari Tulehu, Kawilarang bertemu dengan Menteri Leimena yang datang dari Jakarta bersama Ir Putuhena dan Dokter Rehatta.
Mereka di utus oleh Pemerintah Jakarta untuk mencoba melakukan misi perdamaian yang ketiga dengan RMS. Mereka juga berharap agar supaya tugas APRIS cepat selesai dan sedapat mungkin dengan sedikit korban. Secara khusus harus dijaga, jangan sampai rakyat Maluku yang sudah banyak menderita dan tidak bersalah, menjadi korban dalam pertempuran di Ambon . Tetapi sayang harapan ini tak dapat terlaksana dan sudah terlambat. Karena perang sudah terjadi sejak 28 September dan pihak RMS tidak akan mau berunding. Lagi pula mereka berada dalam posisi kocar-kacir. Pertempuran dalam kota selalu makan banyak korban jiwa dan juga harta. Sebagian besar rumah akan hancur atau terbakar.
Pada 3 November di pagi hari, pasukan Kapten Poniman mendarat di kota Ambon bagian selatan. Disini Kapten Sumitro gugur. Nasib serupa dialami Letnan Komar, yang kena tembakan dan langsung tersungkur. Musuh waktu itu sempat maju lagi sambil menusuk mati beberapa prajurit APRIS yang ketinggalan dan luka-luka. Rupanya musuh mengira Komar sudah mati. Padahal ia berpura-pura tidak bernafas lagi. Seorang RMS mendekatinya sambil berkata kepada temannya, “Ini orang Ambon . Beta ambil arlojinya saja.”
Letnan Komar baru tertolong sewaktu pasukan APRIS maju lagi dan berhasil menghalau musuh.
Pasukan Mayor Lukas Koestaryo mendarat tepat di benteng Victoria , di sebelah utara pelabuhan. Sebelum pukul 11.00 pasukan Mayor Lukas, Kapten Poniman dan Batalyon 3 Mei sudah menduduki sebagian besar kota Ambon dekat pantai. Mayor Achmad Wirahadikoesoemah dengan stafnya berada di pelabuhan.
Sementara itu pasukan dari Waitatiri sudah sampai di Paso dan bertemu dengan Detasemen Faah dan kemudian juga dengan pasukan yang datang dari Telag Kodok. Letkol Slamet Rijadi dengan pasukan Mayor Worang dan Kapten Claproth hari itu sudah berada dekat Halong. Esok harinya, 4 November 1950, mereka meneruskan gerakan ke kota Ambon dan sampai di utara kota pukul 15.00. Sementara itu, di sekitar Fort Victoria , pada pukul 12.00 siang hari itu, keadaan berubah. Pasukan RMS dengan panser menyerang Fort itu hingga dekat pelabuhan. Waktu itu pasukan APRIS terpisah di sebelah utara kota Ambon , di Batumerah. Untung tak lama kemudian datang pasukan Slamet Rijadi dan mematahkan serangan RMS.

Slamet Rijadi Gugur
Tiba-tiba saja Panglima Kawilarang menerima kabar yang mengangetkan. APRIS menderita korban yang sangat berarti, Letnan Kolonel Slamet Rijadi kena tembak.
Alex Kawilarang mengisahkan: “Saya tidak melihat sendiri bagaimana Slamet Rijadi waktu kena tembak itu. Tetapi saya dengar, bahwa ia sempat dibawa ke kapal (rumah sakit) ‘Waibalong’ di Tulehu. Kemudian saya mendapat keterangan, bahwa ia belum bisa di operasi, karena masih kena shock. … Laporan kemudian menceritakan adegan sebelumnya, yakni pada 4 November 1950 itu, Letkol Slamet Rijadi bergerak dari Galala ke Batumerah, di tepi kota Ambon . Tindakan ini diambil oleh Slamet Rijadi karena suasana dan keadaan dalam kota masih menunjukkan adanya pertempuran antara pihak RMS dengan pasukan Mayor Achmad Wiranatakoesoemah. Slamet Rijadi berhasil memasuki kota dan segera terlibat dalam pertempuran yang sengit… Letkol Slamet Rijadi berada di depan duduk di atas tank. Kemudian, nasib menentukan, serentetan tembakan bern dari seorang RMS mengenai perutnya dengan parah. Peluru kena di metal dari belt-nya (ikat pinggang) dank arena itu jadi dum-dum. Lukanya besar. Akibat luka-luka yang amat parah itu akhirnya Letkol Slamet Rijadi gugur. … Dokter Abdullah, yang turut serta dalam serangan ke Maluku Selatan ini, meninggalkan sebuah laporan berbentuk sajak mengenai gugurnya Slamet Rijadi ini: Tanggal 4 November/ Jam 21 seperempat/ Overste Slamet/ telah mangkat/ Terkabullah kehendaknya/ Oleh Tuhan Yang Maha Esa/ Ia ingin mati muda. … Semoga Tuhan/ Menerima arwahnya/ Sebagai umat/ Yang teguh beriman/ Amin.

Rukka Andi Lolo Gugur

Kapten RR.Andilolo bersama satuannya dari Sulawesi selatan masih melanjutkan tugas Operasi  selanjutnya dalam Operasi Pembersihan RMS
 Salah satu Operasi pembersihan yang dilakukan adalah Operasi Kole-kole I atas dasar Perintah Operasi : PO No.0271/0104/IV/S-II/D/51,tanggal 24-7-1951.adapun hari H jatuh pada tanggal 1-5-1951. Gerakan Operasi tersebut bertujuan untuk menduduki Sukaraja/Uwin-Patahu(Pantai Utara Pulau Ceram Barat),merebut dan menguasai daerah segi tiga antara pegunungan Cicilia dan Naimakina,Gerakan Operasi ini disebut Combat Team “A”

Pada tanggal 1 Mei 1951 Kapten RR Andilolo gugur di Seram karena terkena panah beracun ketika sedang memeriksa pasukannya yang sedang berkonsolidasi (Sesuai berita yang diterima keluarga dari pemerintah/APRIS (sekarang TNI) dan di makamkan Pulau Seram. Setelah keadaan Maluku sepenuhnya berada dibawah kendali TNI, dilakukan pemindahan makam RR Andi Lolo dan prajurit lain yang gugur di Pulau Seram ke Taman makam Pahlawan Kapahaha di Kota ambon disamping makam mantan Komandannya Brigjen (Anumerta)Slamet Riyadi,dan pangkatnya dinaikkan satu tingkat lebih tinggi menjadi Mayor (anumerta). Saat ini Nama Mayor R.Rukka Andilolo diabadikan menjadi nama salah satu jalan di pusat Kota Makale Tana Toraja.

ROBEK-ROBEKLAH BADANKU,
POTONG-POTONGLAH JASADKU INI,
TETAPI JIWAKU YANG DILINDUNGI OLEH BENTENG MERAH PUTIH,
AKAN TETAP HIDUP,
TETAP MENUNTUT BELA,
SIAPAPUN LAWAN

One thought on “Mayor (Anumerta) Ruben Rukka Andilolo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s